Gawat Darurat: (0752) 624 317


Senin, 12 November 2018 | Anferi Devitra. SKM. MARS - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Pemasaran Rumah Sakit Di Era Modern
Senin, 29 Oktober 2018 | dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Peringatan Hari Stroke Dunia
Senin, 10 Desember 2018 | dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Neurorestorasi
Kamis, 01 November 2018 | (Erna/Humas) - RSSN Bukittinggi
Wujud Rasa Sayang RS. Stroke Nasional Bukittinggi Kepada Pelanggannya Melalui Pemberian Setangkai Bunga Dalam Perayaan World Stroke Day 2018
Rabu, 24 Oktober 2018 | Dewi Suci, SSt.FT,M.Fis
Fisioterapi Upaya Untuk Meringankan Sakit Stroke
Rabu, 13 Maret 2019 | dr.Putri Ayuna Sundari, SpN - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Peran Tuntutan C-Arm Pada Berbagai Bidang

RS Stroke Nasional Bukittinggi saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas C-arm Fluoroskopi. Alat ini menggunakan sinar-x untuk memberikan gambaran organ dalam tubuh. Lengan berbentuk huruf C yang bersifat mobile memungkinkan operator untuk menempatkan alat dalam berbagai posisi sesuai kebutuhan tanpa perlu melakukan banyak manipulasi pada pasien. Operator dapat memperoleh banyak gambar dalam hitungan menit secara real time. Radiasi yang dipancarkan C-arm pun lebih kecil dibandingkan dengan sinar-x konvensional. Berbagai tindakan terapi dapat lebih mudah dikerjakan dengan bantuan C-arm.

Management Intervensi Nyeri

Nyeri merupakan suatu pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan. Nyeri punggung menjadi salah satu keluhan utama yang sering dikeluhkan pasien saat berkunjung ke fasilitas kesehatan. Sebagian besar kasus nyeri punggung (85%) bersifat ringan. Namun sebagian lainnya melibatkan sistem saraf dan kondisi patologis yang lebih serius. Pada kasus-kasus ini sering kali pasien membutuhkan management nyeri dalam jangka waktu panjang.

Penanganan nyeri dengan teknik intervensi merupakan salah satu pilihan terapi untuk mengurangi ketergantungan pada obat-obatan penghilang rasa sakit. Teknik intervensi bekerja langsung pada lokasi nyeri tulang belakang yang dikeluhkan. Teknik ini dapat bersifat farmakologi dan non farmakologi.

Penempatan jarum yang tepat saat injeksi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektifitas terapi. Untuk itulah alat pencitraan seperti fluoroskopi C-arm digunakan dalam melakukan teknik intervensi penanganan nyeri, seperti injeksi anestesi lokal, kortikosteroid ke ruang epidural, intra artikuler sendi facet maupun sacroiliaca. C-arm yang mampu memberikan gambaran secara real time akan membantu operator dalam menempatkan jarum sesuai lokasi yang diharapkan (Cianfoni dkk, 2011).

Pemberian radiofrekuensi sebesar 50-500kHz ke dalam jaringan saraf akan menimbulkan panas yang dapat mengakibatkan ablasi atau kerusakan jalur yang menghubungkan saraf tepi dan saraf pusat. Radiofrekuensi ini dihantarkan melalui ujung jarum yang diletakkan pada target saraf, kemudian dipanaskan pada suhu 80-900C selama 60-90 menit. C-arm dapat dengan mudah membantu operator mengarahkan jarum ke area saraf yang menjadi targetnya.

Perkutaneus Neuroplasti

Nyeri punggung bawah kronis, dengan atau tanparadikulopati, didefinisikan sebagai kumpulan gejala klinid pada daerah punggung hingga tungkai bawah yang dapat disertai dengan deficit neurologis seperti gangguan sensorik, reflex atau motoric sesuai distribusi akar saraf (radiks) yang berlangsung lebih dari 12 minggu. Penanganan definitif untuk kondisi ini, jika teknik konservatif tidak efektif, adalah operasi. Sayangnya, pada 5-40% pasien yang menjalani operasi untuk nyeri punggung bawah, rasa nyeri pada ekstremitas bawah dan gejala lainnya tetap ada. Kasus-kasus seperti ini sering disebut dengan Failed Back Surgery Syndrome (FBSS). Ini dapat terjadi akibat ruptur diskus intervertebralis, fragmen diskus tersisa pasca operasi, herniasi rekuren, spinal stenosis, bekas luka epidural, nyeri sendi facet, sacroiliac ataupun tidak stabilnya segmen tulang belakang.

Penyebab paling umum adalah bekas luka epidural. Dengan menginjeksikan regimen obat-obatan di area lumbosakral untuk tujuan perkutaneus neuroplasti diharapkan dapat melisiskan adhesi yang terjadi pasca tindakan sebelumnya. Teknik ini bersifat minimal invasif dengan anestesi lokal dan mudah dilakukan setelah latihan yang memadai. Teknik ini dikenal dengan epidurolisis, adhesiolisis atau percutaneus epidural neuroplasti (Mulyawan dkk, 2018). C-arm fluoroskopi sangat membantu operator dalam mengerjakan tindakan ini sekaligus evaluasi pasca tindakan.

Anestesi Epidural dengan Penyulit

Ankilosing Spondilitis (AS) adalah penyakit yang merusak sebagian tulang belakang. Osifikasi anulus fibrosus yang kemudian membentuk “jembatan tulang” (syndesmophytes) sangat berperan untuk terbentuknya gambaran radiologis berupa “bamboo spine” pada AS stadium akhir.Ligamentum longitudinal posterior dan ligamen interspinosus menjadi keras dan sehingga mobilisasi vertebra menjadi terbatas. Keadaan ini menjadi penyulit dalam manajemen jalan nafas dan pemberian anestesi epidural atau spinal. Berbagai literatur anestesi berpendapat bahwa pada kondisi ini manajemen anestesi, baik general maupun regional, sangan menantang dan berbahaya, meskipun beberapa penelitian melaporkan keberhasilan anestesi epidural pada kondisi ini. Seperti sebuah laporan kasus dengan AS derajat berat telah menyatakan teknik anestesi epidural gagal dilakukan dengan cara konvensional, namun pada akhirnya berhasil dikerjakan dengan tuntunan C-arm (Channabasappa dkk,2016).

Manipulasi Fraktur Tertutup

Manipulasi dan reduksi/reposisi fraktur tertutup merupakan salah satu prosedur yang umum dikerjakan ahli bedah atau ortopedi. Sebagian besar Unit Gawat Darurat menggunakan gambaran radiologi sebagai penunjang diagnostik dan evaluasi pascatindakan reposisi/reduksi.

Pada pasien anak, mengurangi paparan radiasi sangat penting dilakukan karena sel-sel tubuh anak lebih sensitif terhadap radiasi. Untuk memenuhi kebutuhan akan visualisasi anatomi tulang selama tindakan, saat ini pencitraan dengan fluoroskopi C-arm telah berkembang pesat. C-arm fluoroskopi sekarang ini sering digunakan untuk penanganan fraktur di UGD, karena penggunan alat yang cukup mudah, nyaman dan dapat diposisikan sesuai kebutuhan.

Penggunaan C-arm untuk penanganan pasien gawat darurat dapat mengurangi waktu stay pasien di UGD dan membantu menyelesaikan perawatan tepat waktu. Ini sangat membantu dalam manajemen awal dan efisiensi tindakan terhadap pasien (Kumar dkk,2017).

Pembedahan Tumor Hiposis

C-arm memungkinkan bedah saraf dalam melakukan prosedur trans speniodal endoskopi dengan memberikan tuntunan visual secara real time. Sebuah penelitian di Jepang melibatkan 31 pasien menggunakan C-arm untuk menyingkirkan sisa tumor pasca operasi pengangkatan tumor hipofisis. Saat penyangatan fluoroskopi mengkonfirmasi lokasi tumor, pembersihan tambahan dilakukan tanpa menggerakkan pasien. Hasil pencitraan berhasil didapatkan pada semua kasus tanpa kesulitan, hanya membutuhkan tambahan 15 menit waktu pembedahan. Penetrasi sellar akibat tumor dan ada/tidaknya hematoma tersembunyi berhasil dikonfirmasi pada semua kasus. 75% kasus pada penelitian ini terdeteksi tumor residual sehingga dipertimbangkan untuk dilakukan pengangkatan tambahan. 16% lainnya didapatkan tanpa tumor residual yang menandakan suatu pengangkatan telah dilakukan secara total (Mori dkk, 2013).

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. B van der Merwe and H Friedrich-Nel. C-Arm orientation during back pain procedures. The South African Radiographer. 2010; 48(1)
  2. Channabasappa SM, Dharmappa S, Pandurangi R. Fluoroscopy guided transforaminal epidural anesthesia in ankylosing spondylitis. SJA. 2016; 10(1)101-103
  3. Cianfoni A, Boulter D.J, Rumboldt Z, Zapton T, and Bonaldi G. Guidelines to imaging landmarks for interventional spine procedures: fluoroscopy and CT anatomy. Neurographics. 2011; 01:38–47
  4. Kumar R, Muzzammil M, Maqsood K, Bhatti A. Role of mini C-arm in orthopedic emergency department, Karachi, Pakistan “save time, money and radiation exposure”. J Trauma Crit Care. 2017; 1(2)
  5. Mori R, Joki T, Matsuwaki Y, Karagiozov K, Murayama Y, Abe T. Initial experience of real-time intraoperative c-arm computed–tomography-guided navigation surgery for pituitary tumors. World Neurosurgery. 2013; 319-32
  6. Mulyawan W, Wiwoho Y.Y, Ichwan S. Percutaneous epidural neuroplasty (PEN) using combination of hyaluronidase and hypertonic saline (NaCl 3%) in treating failed back surgery syndrome. NSMC. 2018;1(1): 1-5