Gawat Darurat: (0752) 624 317


Kamis, 01 November 2018 | (Erna/Humas) - RSSN Bukittinggi
Wujud Rasa Sayang RS. Stroke Nasional Bukittinggi Kepada Pelanggannya Melalui Pemberian Setangkai Bunga Dalam Perayaan World Stroke Day 2018
Rabu, 24 Oktober 2018 | Dewi Suci, SSt.FT,M.Fis
Fisioterapi Upaya Untuk Meringankan Sakit Stroke
Senin, 15 Oktober 2018 | (Erna - Humas RSSN Bukittinggi)
Dialog Interaktif : RS. Stroke Nasional Bukittinggi di RRI Programa 1 Bukittinggi ( Tanggal 11 Oktober 2018 )
Rabu, 03 Oktober 2018 | Mairina, SKM, M.Biomed dan dr. Ruhaya Fitrina, SpS ( RS. Stroke Nasional Bukittinggi )
Pentingnya Pemeriksaan Laboratorium Elektrolit Darah Pada Pasien Stroke Akut
Selasa, 02 Oktober 2018 | Dr.Syahda Suwita, M.Gizi, SpGK (RS Stroke Nasional Bukittinggi)
Disfagia Pada Pasien Stroke Dan Tatalaksana Nutrisinya
Senin, 10 Desember 2018 | dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Neurorestorasi

Neurorestorasi adalah salah satu prosedur aktif untuk memperbaiki sistim saraf yang rusak baik secara fungsional maupun patologik. Dengan cara memodifikasi secara selektif struktur dan fungsi kontrol saraf  tersebut. Usaha yang dilakukan dengan  neurorestorasi adalah cara terarah untuk membantu pemulihan lesi dengan memanfaatkan mekanisme dasar pemulihan saraf. Di RS Stroke Bukittinggi telah dilakukan beberapa metode pemulihan, dengan semua sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung terlaksananya pelayanan ini, yaitu:

  1. Neuromodulasi : RTMS (Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation)
  2. Neurorehabilitasi :  Fisioterapi, Terapi Wicara, Okupasiterapi, Ortetik prostetik

Pengertian neurorestorasi adalah suatu cabang ilmu neurologi yang mempergunakan prosedur aktif untuk memperbaiki fungsi dari kerusakan sistim saraf, baik secara fungsional maupun patologik dengan cara memodifikasi secara selektif struktur dari fungsi kontrol saraf. Usaha Neurorestorasi merupakan cara terarah untuk membantu pemulihan lesi dengan memanfaatkan mekanisme dasar pemulihan sistim saraf. Lingkup dasar Neurorestorasi adalah neurofisiologi, neurobiologi klinis dan fungsional neurologi. Didapatkan 5 dogma neurorestorasi yaitu: neuroplastisitas, neurorepair, neuromodulasi, neurostimulasi dan neurorehabilitasi. Secara teoritis neurorestorasi terdiri dari 2 proses, yaitu: 1) Brain retraining, yang berhubungan dengan pelatihan kembali otak yang terkena penyakit dan proses ini berhubungan erat dengan biologi memori dan proses belajar. 2) Rewering process yang merupakan suatu proses berkembangnya hubungan baru antar neuron yang rusak akibat suatu penyakit. Ciri penanganan Neurorestorasi sesuai dengan patofisiologi yaitu mempertimbangkan neuroanatomi dan neurofisiologi. Penanganan ditujukan ke sistim saraf, bukan organ dengan penanganan yang bersifat stimulasi sistim saraf melalui pendekatan multidisiplin terpadu.

Patofisiologi Neuroplastisitas Otak

Kerjasama interneuron, sensori dan motorneuron, axon dan dendrit di medula spinalis terbatas. Kehilangan kontrol supra spinal akan menyebabkan terjadinya adaptasi intrinsik berupa plastisitas. Maniferstasi klinis yang paling umum adalah spastisitas. Spastisitas umumnya adalah dinamis yaitu kapasitas susunan saraf pusat yang beradaptasi terhadap kebutuhan fungsional, sebagai sistim yang berorganisasi pada periode perkembangan. Tapi otak manusia dewasa masih mempunyai plastisitas : belajar keterampilan baru, mengingat, berespon terhadap lesi selama hidup. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata proses neurogenesis di otak tidak berhenti pada masa kanak-kanak, melainkan terus berlangsung sampai masa dewasa. Lebih jauh lagi, hal ini juga membuktikan kapasitas sistim saraf dalam melakukan reparasi dan regenerasi dirinya sendiri pasca injury otak. Neurogenesis ini tidak saja dijumpai pada berbagai area otak mamalia dewasa, tapi bukti-bukti lain juga menunjukkan bahwa sel-sel progenitor neural ini juga membentuk neuron baru yang berintegrasi dengan sirkuit yang ada pada otak dewasa. Eriksson dkk, 1998, melaporkan tentang regenerasi neuron baru di gyrus dentatus hipokampus manusia dewasa. Hal ini merupakan indikasi bahwa ternyata neurogenesis memang berlangsung sepanjang masa kehidupan.

Sirkuit neural dimodifikasi oleh pengalaman, pembelajaran dan respon lesi. Penanganan spastisitas tidak melulu ditujukan terhadap otot, pemberian input afferen terhadap motor neuron yang melibatkan faktor kognitif terutama atensi dan dihubungkan dengan aktivitas keseharian/Activity Daily Living  (ADL). Akibat adanya plastisitas sistim saraf mempunyai kemampuan untuk memanipulasi/dibentuk kembali, yang merupakan kunci terapi yang berhasil.

Dulu “Scientific Dogma” otak manusisa mempunyai kapasitas yang sangat terbatas untuk pulih struktur/fungsional. Pasien stroke hanya mengandalkan kemampuan adaptasi.

Sekarang, pada 3 dekade terakhir keadaan menjadi optimis. Neurobiologi daerah sensori motor tidak terlalu berfungsi khusus. Pada daerah sensori motor otak dapat berubah dengan latihan, bila ada yang hilang dapat digantikan. Ernesto Lugano,1906: neuron berinteraksi dengan lingkungan, aktivitas dan aktivits berfikir. Donald Hebb, 1950: koneksi antar neuron berubah dan dapat diperbaharui (remodeled) dengan pengalaman.

KONSEP BOBATH

Suatu metode neurorehabilitasi/ neuroexercise dengan pendekatan pemecahan masalah melalui penilaian dan pengobatan individu yang mempunyai gangguan fungsi gerak dan kontrol postural karena lesi pada sistim saraf pusat. (IBITA 2007) dengan cara mengobservasi, menganalisa dan menginterprestasikan hasil kegiatan tersebut. (Mayston 2001). Konsep Bobath ini merupakan integrasi dari kontrol postural, pola postural, keselarasan postural, kontrol gerak selektif untuk menghasilkan urutan gerakan terkoordinasi dan peran integrasi sensorimotor dalam output motorik.

Kontrol Postural adalah Kemampuan untuk mengontrol posisi tubuh dalam ruang untuk tujuan stabilisasi dan orientasi.

Pola Postural adalah aktivitas antigravitasi pada otot postural untuk melawan gaya gravitasi. Hal ini penting dalam menghadapi gravitasi, cukup mudah untuk dijadikan dasar penunjang, cukup baik untuk mempertahankan postur tubuh melawan gravitasi. Aktivitas ini otomatis dan dinamis, sangat bervariasi dari satu individu dengan individu lainnya. Kegiatan ini melibatkan proses sensorik dalam menentukan dimana keberadaan tubuh dalam suatu ruangan, memprediksi dimana dia berada dan menentukan aktivitas yang diperlukan untuk mengontrol postur.

Keselarasan Postural adalah orientasi postural dengan dasar dukungan gravitasi. Keadaan ini menentukan strategi gerakan, keselarasan segmen tubuh dan menentukan strategi kontrol postural.

Kontrol Postural merupakan kondisi kecenderungan keterlibatan genetik, dimana dapat dilihat dari kondisi saat berdiri dengan satu kaki, fungsi lengan saat bebas dan gerakan kepala saat mengamati dan berkomunikasi.

Gerakan Selektif adalah kemampuan dalam membatasi dan mengkombinasikan gerakan secara selektif untuk fungsi gerak dalam kondisi yang berbeda, memerlukan kontrol postural dan memerlukan koordinasi antar sendi. Gerakan selektif ini juga diperlukan saat melakukan gerakan satu sendi, diperlukan untuk aktivitas yang menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang tidak diinginkan pada sendi lain, diperlukan untuk pergerakan sendi saat interaksi memutar dari gerakan sendi lain. Stabilitas postural sehubungan dengan banyak ikatan sendi, kemampuan tingkat pola postural untuk memindahkan satu posisi postural tertentu kekondisi lain dan membutuhkan latar belakang stabilitas dinamis, memerlukan kemampuan geraka selektif. Gerakan selektif bukan merupakan problem utama dalam gangguan gerak, tapi sangat menentukan kontraksi awal pergerakan otot dengan jumlah yang benar dan waktu yang tepat juga ke waktu dan mengatur pola antagonis, penentu dalam kontraksi otot postural dan terakhir sangat penting dalam menyertai suatu gerakan.

Pola Gerak adalah urutan gerak selektif dalam keselarasan yang tepat untuk keberhasilan pencapaian tujuan motorik. Pola gerak ini juga merupakan sirkuit saraf yang mendukung pola gerakan berjalan, berputar dan menjangkau serta menggenggam.

Sensori Motor Integrasi adalah suatu kondisi yang melibatkan kemampuan Susunan saraf pusat yang lebih selektif dalam menerima, menggabungkan, merespon terhadap lingkungan, beradaptasi terhadap gerakan untuk sukses mencapai tujuan. Bila dilakukan secara terus menerus akan memperbaiki ke model internal dan akan mengaktifkan secara akurat perintah untuk umpan maju serta perbandingan secara aktual dan memprediksi umpan balik sensorik.

Peran Representasi Internal adalah sebagai kontrol postural, pengolahan pesepsi, sebagai akurasi, efisiensi gerakan dan berjalan.