Gawat Darurat: (0752) 624 317


Selasa, 02 Oktober 2018 | Dr.Syahda Suwita, M.Gizi, SpGK (RS Stroke Nasional Bukittinggi)
Disfagia Pada Pasien Stroke Dan Tatalaksana Nutrisinya
Kamis, 20 September 2018 | erna/Humas RSSN Bukittinggi
Dialog Interaktif Ahli Gizi RS. Stroke nasional Bukittinggi di RRI Programa 1 Bukittinggi Tentang Kasiat Bumbu Minang Terhadap Pengobatan dan Pencegahan Kolesterol
Rabu, 26 September 2018 | Mairina, SKM, M.Biomed dan dr. Ruhaya Fitrina, SpS
Gambaran Profil Lipid Pasien Stroke Di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi
Rabu, 12 September 2018 | dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S - Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi
LOW BACK PAIN (LBP)
Jumat, 07 September 2018 | Khairil Armal , S.Si, Apt, Sp.FRS - RS Stroke Nasional Bukittinggi
Pemberian Obat Melalui Slang Enteral (ENTERAL TUBE)
Rabu, 03 Oktober 2018 | Mairina, SKM, M.Biomed dan dr. Ruhaya Fitrina, SpS ( RS. Stroke Nasional Bukittinggi )
Pentingnya Pemeriksaan Laboratorium “Elektrolit Darah” Pada Pasien Stroke Akut

Perubahan pada stadium awal stroke sangat penting untuk diketahui. Sudah banyak penelitian dilakukan kearah ini, untuk mengetahui faktor-faktor yang berperan dalam kerusakan sel pada detik-detik pertama kejadian stroke. Baik stroke iskemik maupun hemoragik mengakibatkan sirkulasi darah ke otak terhenti. Akibatnya nutrisi sel berupa glukosa dan oksigen yang terkait dengan anatomis sirkulasi tersebut juga terhenti. Oleh sebab itu, jika sirkulasi berhenti selama 8-10 detik saja akan mengakibatkan disfungsi otak. Energi dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan ion-ion yang berada di intraseluler seperti kalium (K+) dan ekstraseluler seperti natrium (Na+), kalsium (Ca2+) dan clorida (Cl–). Keseimbangan ini dipertahankan melalui pompa ion yang aktif yang bergantung pada keberadaan energi tinggi, adenosine triphosphate (ATP) dan adenosine diphosphate (ADP).

Elektrolit merupakan Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Tubuh kita ibarat suatu jaringan listrik yang begitu kompleks, didalamnya terdapat beberapa “pembangkit” lokal seperti jantung, otak dan ginjal. Juga ada “rumah-rumah” pelanggan berupa sel-sel otot. Untuk bisa mengalirkan listrik ini diperlukan ion-ion yang akan mengantarkan “perintah” dari pembangkit ke rumah-rumah pelanggan. Ion-ion ini disebut sebagai elektrolit. Ada dua tipe elektrolit yang ada dalam tubuh, yaitu kation (elektrolit bermuatan positif) dan anion (elektrolit bermuatan negatif). Masing-masing tipe elektrolit ini saling bekerja sama mengantarkan impuls sesuai dengan yang diinginkan atau dibutuhkan tubuh. Kation dalam tubuh adalah Na+, K+, Ca2+, Magnesium (Mg2+). Sedangkan Anion adalah Cl–, HCO3–, HPO4–, SO4–. Dalam keadaan normal, kadar kation dan anion ini sama besar sehingga potensial listrik cairan tubuh bersifat netral. Pada cairan ektrasel kation utama adalah Na+ sedangkan anion utamanya adalah Cl-.. Sedangkan di intrasel kation utamanya adalah K+.

Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai banyak manfaat, tergantung dari jenisnya. 

  1. Natrium berfungsinya sebagai penentu utama osmolaritas dalam darahdan pengaturan volume ekstra sel.
  2. Kaliumberfungsinya mempertahankan membran potensial elektrik  dalam  tubuh.
  3. Klorida berfungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi airpada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam cairan ekstrasel.
  4. Kalsium berfungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan,kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah.
  5. Magnesium berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatankontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.

 

Akibat Kelebihan atau Kekurangan Elektrolit dalam Tubuh

1. Hiperkalemia (kadar kalium darah yang tinggi) 

Suatu keadaan dimana konsentrasi kalium darah lebih dari 5 mEq/L darah.

Biasanya konsentrasi kalium yang tinggi adalah lebih berbahaya daripada konsentrasi kalium yang rendah. Hiperkalemia akan mempengaruhi sistem konduksi listrik jantung. Bila konsentrasi yang tinggi ini terus berlanjut, irama jantung menjadi tidak normal dan jantung akan berhenti berdenyut.

2. Hipokalemia (kadar kalium yang rendah dalam darah) 

Suatu keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah kurang dari 3.8 mEq/L darah.

Ginjal yang normal dapat menahan kalium dengan baik. Jika konsentrasi kalium darah terlalu rendah, biasanya disebabkan oleh ginjal yang tidak berfungsi secara normal atau terlalu banyak kalium yang hilang melalui saluran pencernaan (karena diare, muntah, penggunaan obat pencahar dalam waktu yang lama atau polip usus besar).

3. Hipernatremia (kadar natrium darah yang tinggi)

Suatu keadaan dimana kadar natrium dalam darah lebih dari 145 mEq/L darah. Hipernatremia akan menyebabkan lisisnya sel-sel neuron. Pada hipernatremia, tubuh mengandung terlalu sedikit air dibandingkan dengan jumlah natrium.  Konsentrasi natrium darah biasanya meningkat secara tidak normal jika kehilangan cairan melampaui kehilangan natrium, yang biasanya terjadi jika minum terlalu sedikit air. Konsentrasi natrium darah yang tinggi secara tidak langsung menunjukkan bahwa seseorang tidak merasakan haus meskipun seharusnya dia haus, atau dia haus tetapi tidak dapat memperoleh air yang cukup untuk minum. Misalnya : Fungsi ginjal yang abnormal, Diare, Muntah, Demam, Keringat yang berlebihan.

4. Hiponatremia (kadar natrium darah yang rendah) 

Suatu keadaan dimana konsentrasi natrium yang lebih kecil dari 136 mEq/L darah. Hiponatremia akan menyebabkan penurunan kadar osmolaritas plasma sehingga akan terjadi edema sitotoksik. Konsentrasi natrium darah menurun jika natrium telah dilarutkan oleh terlalu banyaknya air dalam tubuh. Pengenceran natrium bisa terjadi pada orang yang minum air dalam jumlah yang sangat banyak (seperti yang kadang terjadi pada kelainan psikis tertentu) dan pada penderita yang dirawat melebihi kemampuan ginjal untuk membuang kelebihannya. Asupan cairan dalam jumlah yang lebih sedikit (kadang sebanyak 1L/hari), bisa menyebabkan hiponatremia pada orang-orang yang ginjalnya tidak berfungsi dengan baik, misalnya pada gagal ginjal.

 

Fungsi Elektrolit

  1. Mengembalikan dan mempertahankan tingkat hidrasi yang tepat di seluruh tubuh.
  2. Setiap kekurangan garam mineral dapat memicu masalah kesehatan seperti, lesu,depresi, kelemahan, gangguan jantung dan koma.
  3. Mempertahankan tekanan osmotik, membantu kontraksi otot dan memproduksi serta menyalurkan sinyal listrik dari otak ke sel dan sebaliknya.
  4. Ginjal memisahkan elektrolit dari darah dan mengatur tingkat elektrolit dalam tubuh.
  5. Kehilangan elektrolit terlalu banyak menyebabkan dehidrasi parah dan berpotensimempengaruhi jantung dan sistem saraf pusat.
  6. Elektrolit bekerja dalam tubuh pada tingkat sel, dan jika jumlah lebih rendah dari yang dibutuhkan dapat mempengaruhi semua sistem utama dan organ tubuh 
  7. Elektrolit bertugas mempertahankan suhu tubuh tetap stabil dan tetap dingin.
  8. Konsumsi elektrolit berlebihan dapat menyebabkan retensi cairan meningkat dan menyebabkan pembengkakan otot.
  9. Saat mencoba mengganti elektrolit yang hilang dengan minum banyak air sekaligus,Anda justru menipiskan konsentrasi elektrolit yang sudah ada dalam darah karena asupan air yang   terlalu tinggi.
  10. Setiap ketidak seimbangan tingkat elektrolit dalam tubuh dapat berakibat fataldalam hitungan jam, terutama pada penderita gangguan pencernaan.
  11. Hormon adrenal seperti aldosteron dan para-tiroid bertugas mengatur elektrolit dan menjaga keseimbangan kimia intraseluler dan ekstraseluler.

Oleh karena itu alasan utama melakukan pemeriksaan laboratorium, khusus nya elektrolit untuk :

1. Menunjang diagnosa penyakit

2. Memantau perjalanan penyakit

3. Memantau efektivitas pengobatan

4. Melakukan uji saring dan pencegahan (check-up)

 

Daftar Pustaka

  1. Misbach J. Stroke, Aspek Diagnostik, Patofisiolgi, Manajemen. PERDOSSI. Jakarta, 2011: 41-3.
  2. Sacher R.A. dan Mcpherson R.A, Pengaturan Asam-Basa dan Elektrolit pada: Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi kedua, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2002, hh.320-340.
  3. Matfin G. and Porth C.M, ‘Disorders of Fluid and Electrolyte Balance’ In: Pathophysiology Concepts of Altered Health States, 8th Edition, McGraw Hill Companies   USA, 2009, pp. 761-803
  4. Siregar P, ‘Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit’ dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ke-5, Interna publishing, Jakarta, 2009, hh. 175-189.
  5. Rismawati Y., Ira F., Fisiologi dan gangguan keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida serta pemeriksaan Laboratorium. J. FK unand. 2012.