Gawat Darurat: (0752) 624 317


Minggu, 13 Mei 2018 | Tim Neurologist RS Stroke Bukittinggi
UNIT STROKE
Selasa, 07 Agustus 2018 | Anferi Devitra SKM.MARS - Kasubag. Pemasaran dan Informasi
ACARA TERAPI WISATA KLUB STROKE RS.STROKE NASIONAL BUKITTINGGI
Rabu, 08 Agustus 2018 | Mairina, SKM, M.Biomed, dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S,dr. Fatimah Yasin, SpPK, M.Kes
HIPERGLIKEMI PADA STROKE AKUT
Selasa, 03 Juli 2018 | dr. Fred Septo, Sp.S - Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi
PENYAKIT PARKINSON
Senin, 26 Maret 2018 | dr. Titin Rahayu SpK.FR Ahli Rehabilitasi Medik RS Stroke Nasional Bukittinggi
Pengaruh Bilateral Transfer of Motor Skill Learning Terhadap Fungsi Tangan Penderita Stroke
Jumat, 24 Agustus 2018 | Ruhaya Fitrina RS Stroke Nasional Bukittinggi
EPILEPSI

PENDAHULUAN

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologi tertua yang ditemukan pada semua umur yang dapat menyebabkan kecacatan serta kematian. Diperkirakan terdapat 50 juta orang di seluruh dunia yang menderita epilepsi (WHO 2012). Populasi epilepsi aktif (terjadi bangkitan terus menerus dan memerlukan pengobatan) diperkirakan antara 4-10 per 1000 penduduk. Namun angka ini jauh lebih tinggi di negara  dengan pendapatan perkapita menengah dan rendah yaitu  antara 7-14 per 1000 penduduk. Secara umum diperkirakan terdapat 2,4 juta pasien yang didiagnosis epilepsi setiap tahunnya.

 Angka prevalensi dan insiden epilepsi di Indonesia belum diketahui secara pasti. Hasil penelitian kelompok Studi Epilepsi Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia di beberapa RS di 5 pulau besar di Indonesia (2013) didapatkan 2.288 penyandang epilepsi  dengan 21,3% merupakan pasien baru. Rerata usia pasien adalah usia produktif dengan etiologi epilepsi tersering adalah cedera kepala, infeksi susunan saraf pusat (SSP), stroke, dan tumor otak. Riwayat kejang demam didapatkan 29% pasien. Sebagian besar (83,17%) adalah epilepsi parsial dengan aura yang tersering adalah sensasi epigastrium dan gejala aura autonomi (60,1%).

 

DEFINISI

Epilepsi adalah kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor pedisposisi secara terus menerus untuk terjadinya suatu bangkitan epileptik dan juga ditandai oleh adanya faktor neurolobiologis, kognitif, psikologis, dan konsekuensi sosial akibat kondisi tersebut.

Bangkitan epilepsi adalah tanda dan/atau gejala yang timbul sepintas akibat aktivitas neuron di otak yang berlebihan dan abnormal serta sinkron

PATOFISIOLOGI BANGKITAN EPILEPTIK

Secara normal aktivitas otak terjadi oleh karena perpindahan sinyal dari satu neuron ke neuron lain. Perpindahan ini terjadi antara akson terminal  suatu neuron dengan dendrit neuron yang lain melalui sinaps. Sinaps merupakan area yang penting untuk perpindahan elektrolit dan sekresi neurotransmitter yang berada di dalam vesikel presinaps. Komposisi elektrolit dan neurotransmitter saling mempengaruhi satu sama lain untuk menjaga keseimbangan gradient ion di dalam dan di luar sel melalui ikatan antara neurotransmitter dengan reseptormya serta keluar masuknya elektrolit melalui kanalnya masing-masing. Aktivitas tersebut akan menyebabkan terjadinya depolarisasi, hiperpolarisasi dan repolarisasi sehingga terjadi potensisal eksitasi dan inhibisi pada sel neuron. Potensisal eksitasi di proyeksikan oleh sel-sel neuron yang berada di kortek yang kemudian di teruskan oleh akson, sementara sel interneuron berfungsi sebagai inhibisi.

Elektrolit yang berperan penting dalam aktivitas otak adalah natrium (Na+), kalsium (Ca2+), kalium (K+), magnesium (Mg2+) dan klorida (Cl-). Neurotransmitter pada proses eksitasi adalah glutamat sedangkan pada proses inhibisi neurotransmiter utama adalah asam aminibutirik (GABA).

 

KLASIFIKASI EPILEPSI

Epilepsi dapat diklasifikasi menurut tipe bangkitan yaitu sesuai International League Against Epilepsy/ ILAE tahun 1981 dan menurut menurut sindrom epilepsi yaitu sesuai klasifikasi ILAE 1989. Secara garis besar menurut klasifikasi ILAE tahun 1981, bangkitan epileptik dibagi menjadi:

  1. Bangkitan parsial (fokal atau lokal)
  2. Bangkitan umum (tonik, klonik atau tonik klonik, mioklonik, dan absans tipikal atau atipikal)
  3. Bangkitan epileptic tidak terklasifikasi
  4. Bangkitan berkepanjangan atau berulang (status epileptikus)

Klasifikasi sindrom epilepsi ILAE 1989 dibuat berdasarkan tipe bangkitan dan etiologi epilepsi. Penegakan diagnosis berdasarkan sindrom dapat mengarahkan ke tatalaksana yang lebih spesifik dan dapat menentukan prognosis pasien. Klasifikasi sindrom secara garis besar dibagi menjadi:

  1. Epilepsi dan sindrom localization-related (fokal, lokal,dan parsial)
  2. Epilepsi dan sindrom generalization atau umum
  3. Epilepsi dan sindrom yang tidak dapat ditentukan apakah fokal atau umum
  4. Sindrom spesial

 

ETIOLOGI EPILEPSI

Etiologi epilepsi dapat dibagi ke dalam 3 kategori, sebagai berikut:

  1. Idiopatik: tidak terdapat lesi struktural di otak atau defisit neurologis. Diperkirakan mempunyai predisposisi genetik dan umumnya berhubungan dengan usia.
  2. Kriptogenik: dianggap simtomatis tetapi penyebabnya belum diketahui. Termasuk disini sindrom West, sindrom Lennox-Gastaut dan epilepsi mioklonik. Gambaran klinis sesuai dengan ensefalopati difus.
  3. Simtomatis: bangkitan epilepsi disebabkan oleh kelainan/ lesi struktural pada otak, misalnya cedera kepala, infeksi SSP, kelainan kongenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik (alkohol, obat), metabolik, kelainan neurodegeneratif.

 

TATALAKSANA

Tujuan utama terapi epilepsi adalah mengupayakan penyandang epilepsi dapat hidup normal dan tercapainya kualitas hidup optimal sesuai dengan perjalanan penyakit  dan disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya. Harapannya adalah bebas bangkitan tanpa efek samping. Untuk tercapainya tujuan tersebut diperlukan beberapa upaya, antara lain menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping/ dengan efek samping yang minimal, menurunkan angka kesakitan dan kematian. Terapi pada epilepsi dapat berupa terapi farmakologi dan nonfarmakologi.

 

Farmakologi

Pada bangkitan epileptik pertama, terapi obat anti epileptik (OAE) dapat langsung diberikan bial terdapat risiko yang tinggi untuk terjadinya  bangkitan berulang. OAE dberikan berdasarkan tipe bangkitan. OAE pilihan pada kejang tipe parsial berdasarkan pedoman ILAE 2013 antara lain adalah karbamazepin, levetirasetam, zonisamid dan fenitoin. Pilihan OAE pada anak-anak adalah okskarbamazepin dan pada lanjut usia adalah lamotrigin dan gabapentin. Sementara pada pada bangkitan pertama umum tonik klonik pada dewasa dan anak adalah karbamazepin, okskarbamazepin, fenitoin dan lamotrigin.

Dosis obat dimulai dari dosis kecil dan dinaikan secara bertahap sampai tercapai dosis terapi. Prinsip pengobatan epilepsi adalah monoterapi dengan target pengobatan 3 tahun bebas kejang bangkitan. Bila pemberian monoterapi tidak dapat mencegah bangkitan berulang, politerapi dapat diberikan dengan pertimbangan profil obat yang akan dikombinasikan. Apabila masih tidak dapat diatasi, maka perlu dipertimbangkan tindakan pembedahan untuk menghilangkan focus epileptik.

 

Nonfarmakologi

Tatalaksana nonfarmakologi pada epilepsi antara lain: 

  1. Pembedahan epilepsi
  2. Stimulasi nervus vagus
  3. Deit ketogenik

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. World Health Organization. Epilepsy: fact sheet. WHO (serial online) 2016. (diunduh 14 Agustus 2018) Tersedia dari: WHO media Centre.
  2. Octaviana F, Budikayanti A, Wiratman W, Indrawati LA, Syeban Z. Bangkitan Epilepsi. Buku Ajar Neurologi Buku 1 Departemen Neurologi FKUI. 2017:75-95.
  3. Kelompok Studi Epilepsi PERDOSSI. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Surabaya: Airlangga University Press; 2014
  4. Lawrence J. Hirsch, Timothy A. Pedley. Goal of Therapy. In A Comprehensive Text Book. 2th ed, vol.I. Lippincott William & Wilkins. Philadelphia. 208; 1125-1128