Gawat Darurat: (0752) 624 317


Selasa, 07 Agustus 2018 | Anferi Devitra SKM.MARS - Kasubag. Pemasaran dan Informasi
ACARA TERAPI WISATA KLUB STROKE RS.STROKE NASIONAL BUKITTINGGI
Rabu, 08 Agustus 2018 | Mairina, SKM, M.Biomed, dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S,dr. Fatimah Yasin, SpPK, M.Kes
HIPERGLIKEMI PADA STROKE AKUT
Selasa, 03 Juli 2018 | dr. Fred Septo, Sp.S - Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi
PENYAKIT PARKINSON
Senin, 26 Maret 2018 | dr. Titin Rahayu SpK.FR Ahli Rehabilitasi Medik RS Stroke Nasional Bukittinggi
Pengaruh Bilateral Transfer of Motor Skill Learning Terhadap Fungsi Tangan Penderita Stroke
Jumat, 23 Februari 2018 | Instalasi PPK dan HUMAS RSSN Bukittinggi
LAPORAN KEGIATAN DIALOG INTERAKTIF RRI PROGRAMA 1 BUKITTINGGI - Kamis, 22 Februari 2018 Jam 08.00 WIB sd 09.00 WIB
Minggu, 13 Mei 2018 | Tim Neurologist RS Stroke Bukittinggi
UNIT STROKE

Fasilitas perawatan spesialistik stroke komprehensif dengan penekanan utama terhadap pemantauan yang ketat pada tanda vital, pengendalian faktor risiko, neurorestorasi/ neurorehabilitasi sampai rencana pulang dan prevensi sekunder, seluruh aktivitas ini di lakukan dalam unit stroke. Unit stroke merupakan fasilitas spesialistik manajemen stroke secara menyeluruh sejak fase akut sampai fase pemulihan. Dalam hal ini, perawatan dan perhatian tidak hanya ditujukan pada penderita saja, akan tetapi juga pada keluarga. Disebut stroke unit, apabila mempunyai ruangan dan manajerial tersendiri.

Secara umum hasil perawatan di unit stroke ini lebih baik dibandingkan dengan   perawatan konvensional stroke yang terdahulu dan hasil keluarannya juga sebaik pasien stroke iskemik yang mendapatkan rt-pA, angka keberhasilan ini diukur dengan turunnya angka kecacatan dan kematian.

 

UNIT STROKE

Definisi unit stroke sendiri biasanya disesuaikan dengan fasilitas yang ada di daerah tempat unit stroke tersebut berada. Unit stroke yang terbaik adalah memberikan perawatan sejak pasien masuk kemudian di diagnosa dan di kategorikan onset pasien masuk, di berikan terapi dan rehabilitasi oleh tim multidisiplin.

Rencana perawatan sejak masuk sampai pulang disusun bersama-sama oleh tim multidisiplin yang dipimpin oleh seorang spesialis saraf. Tim multidisiplin tersebut terdiri dari dokter saraf, perawat mahir stroke dan professional lain yang terkait dengan manajemen stroke. Professional lain adalah dokter spesialis yang terkait dengan penyakit komorbiditinya yang secara umum merupakan faktor risiko stroke, fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, pekerja sosial, ahli gizi, perawat penghubung dan lainnya sesuai dengan kondisi pasien.

Unit stroke merupakan perawatan high care dengan penekanan perawatan terpantau ketat, tapi bukan intensive care . Jadi unit stroke ini berada di posisi antara intensive care unit dan rawat inap neurologi.

Kelengkapan unit stroke sebagai high care adalah menggunakan peralatan monitoring jantung, tekanan darah, saturasi oksigen, tempat tidur empat posisi dan bladder scan. Keunggulan perawat stroke dibandingkan dengan perawat biasa adalah dilakukan nya observasi status neurologik dan keadaan umum secara ketat serta monitoring jantung – paru, tekanan darah, nadi dan pernafasan. Dari penilaian yang sangat ketat ini, fluktuasi  kestabilan fungsi kardiopulmovaskular dapat termonitor terus sehingga diketahui kapan waktu yang tepat untuk di mulai intervensi pemberian medikamentosa, program neurorestorasi, manipulasi apa saja yang boleh dan tindakan lain yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasien.

 

TUJUAN MANAJEMEN DI UNIT STROKE

Tujuan utama perawatan spesialistik di unit stroke adalah menghindari kematian (umumnya antara 1-4 minggu setelah stroke) dan meminimal kecacatan.Untuk mencapai tujuan ini, maka dilakukan hal-hal:

  1. Mewaspadai dan mengantisipasi komplikasi stroke pada pasien yang berisiko tinggi, misalnya aspirasi pneumonia, decubitus, emboli pulmonum.
  2. Mobilisasi dini, intravenous saline dan obat-obat selektif antipiretik dan antibiotik, oksigen, insulin sesuai kebutuhan.
  3. Monitoring variable fisiologis dengan ketat (tekanan darah, osmolaritas, suhu, saturasi oksigen, gula darah) dan antisipasi cepat bila ada gangguan.
  4. Monitoring jantung.
  5. Koordinasi asesmen, intervensi dan kestabilan homeostasis secara multidisiplin.
  6. Mengukur tingkat risiko, mencatat dan mencegah komplikasi.
  7. Rehabilitasi aktif
  8. Edukasi dan latihan perawatan stroke bagi staf yang merawat pasien stroke.
  9. Pertemuan rutin para spesialis dan seluruh staf dari tim yang merawat pasien stroke (di unit stroke)

 

MANAJEMEN DI UNIT STROKE 

Pendekatan yang dilakukan untuk pasien di unit stroke adalah melalui cara pendekatan prilaku (behavioral approach) yang berdasarkan pada rumusan tingkah laku sebagai respon terhadap manipulasi fisik maupun farmakologik yang merupakan tindakan neurorestoratif.

Pengertian neurorestorasi adalah suatu cabang ilmu neurologi yang mempergunakan prosedur aktif untuk memperbaiki fungsi dari kerusakan sistim saraf, baik secara fungsional maupun patologik dengan cara memodifikasi secara selektif struktur dari fungsi kontrol saraf. Usaha Neurorestorasi merupakan cara terarah untuk membantu pemulihan lesi dengan memanfaatkan mekanisme dasar pemulihan sistim saraf. Lingkup dasar Neurorestorasi adalah neurofisiologi, neurobiologi klinis dan fungsional neurologi. Didapatkan 5 dogma neurorestorasi yaitu: neuroplastisitas, neurorepair, neuromodulasi, neurostimulasi dan neurorehabilitasi. Secara teoritis neurorestorasi terdiri dari 2 proses, yaitu: 1) Brain retraining, yang berhubungan dengan pelatihan kembali otak yang terkena penyakit dan proses ini berhubungan erat dengan biologi memori dan proses belajar. 2) Rewering process yang merupakan suatu proses berkembangnya hubungan baru antar neuron yang rusak akibat suatu penyakit.

Berdasarkan teori neurorestorasi dan upaya penanganan stroke secara menyeluruh, maka dikembangkanlah suatu sistim manajemen unit stroke.

 

PELAYANAN DI UNIT STROKE

  1. Pemeriksaan dan penilaian status neurologik dan tanda vital secara cepat dan akurat oleh masing-masing profesional sesuai dengan perannya. Penilaian lain yang tidak kalah pentingnya adalah penilaian fungsi neurobehavioral (kognisi, Bahasa, atensi, fungsi eksekutif, visuospasial dan perilaku) yang sangat berkaitan dengan kecepatan pemulihan  fungsional pasca stroke. Penilaian lain yang juga harus dilakukan agar dapat segera melibatkan keluarga dan lingkungan pasien, melakukan penilaian aktifitas keseharian pasien (keterbatasan/ ketidak mampuan), perumahan dan fungsi sosial.
  2. Asuhan keperawatan khusus stroke yang profesional dan bermutu, melibatkan semua personil dalam pelayanan spesialistik stroke dan mempunyai keterampilan khusus serta mengikuti kemajuan neurologi secara umum. Selain itu seluruh personil  juga diharapkan mengetahui tentang neurofisiologi pemulihan stroke dari sudut pandang biomolekuler yang berhubungan dengan cara kerja otak dan cara pemulihan fungsi otak, terutama pengetahuan mengenai konsep jendela terapi untuk pemulihan neuron  di daerah penumbra. Personil yang menangani stroke harus menyadari pentingnya program yang cepat dan stimulasi dini berkesinambungan serta cara mobilisasi dini yang menunjang dan mengarahkan pada restorasi fungsi otak.
  3. Tersedianya sarana dan program untuk menunjang pemulihan kondisi pasien termasuk fasilitas laboratorium dan sarana monitoring tanda vital serta serta jantung-paru. Sarana penunjang lain yang harus tersedia adalah: 1) standar asuhan perawat khusus stroke. 2) standar pelayanan unit perawatan khusus stroke. 3) tata cara kerja tim antara perawat, terapis, dokter spesialis saraf dan profesional/ spesialis lain yang terkait dengan komorbid pasien.
  4. Tersedianya asuhan berkelanjutan, sehingga sesudah pulang rawatan penderita stroke masih mendapat bimbingan dan akses langsung ke rumah sakit. Di rumah sakit tugas ini di laksanakan oleh perawat penghubung yang sudah mulai bekerja sejak fase akut dan perawat ini juga bertugas untuk membantu keluarga pasien agar tenang dan tabah. Setelah fase akut selesai perawat penghubung mendiskusikan dengan keluarga untuk menunjuk seorang pengasuh yang telah di berikan pengarahan yang efektif berupa edukasi dan informasi mengenai perawatan di rumah. Dalam hal ini keluarga harus di jadikan suatu unit penting yang sangat efektif dalam membantu pemulihan pasien dan mendapatkan kembali keseimbangan hidup yang baru.

Pada akhirnya, selama perawatan spesialistik stroke komprehensif, sebelum menyatakan bahwa seseorang pasien atau keluarga tidak termotivasi untuk pulih, sebaiknya anggota tim terlebih dahulu mengkaji apakah seluruh anggota tim sudah berusaha cukup untuk memotivasi pasien dan keluarga.